Friday, December 26, 2008


Bukan Puisi Natal


Terlalu banyak orang natalan
Buat mereka natalan bak jalan jalan
Cuci mata untuk memanfaatkan baju baru
Atau sekali sekali mengunjungi Gereja Nostalgia

Di seberang jembatan itu
Orang orang juga natalan dengan music dangdut
Mereka tidak tau kalau itu natal juga
Bayi merah seorang perempuan juga lahir hari ke 25
Selendang busuk dan susu dari dada ibunya
Cukup membuatnya aman sentosa
Meski debu jalan tak seharum rumah bersalin

Mereka heran melihat orang cantik dan bagus
Dengan parfum seperti tukang emas
Dan bau harum cap “Ratu Agung”
Mereka kagum melihat mereka natalan
Sementara mereka “natalan” bersama bayinya yang lapar
Mereka tidak tau apa yang dinatalkan
Yang mereka tau adalah Tuhan sudah bersama mereka
Selama mereka masih bisa bernafas

Perempuan itu juga melahirkan di jalan
Diusir tukang tahu gejrot, karena tidak pindah tempat
Untunglah ada Mustika, Isteri si Andun tukang asongan
Dia tidak peduli natal atau natalan
Karena pedulipun sudah tidak ada artinya
Ia peduli hanya pada nasib bayinya
Meski dulu namanya Kristin Daminah, pemberian neneknya
Ia tau ia juga Kristen, tetapi apalah artinya itu
Sekedar nama tak membuatnya dekat pada mereka

Daminah tau hari itu adalah hari natalan
Ia tahu banyak orang ke gereja dengan pakaian bagus
Dan bau wangi semerbak
Seakan berujar dia juga ikhtiar:
“Kalau aku dapat duit, aku mau pakai warna merah hijau
Bawahan emas, buat ke Gereja bareng si kecil.
Namanya adalah Ratna yang berarti kemilau”
Tak perlu memakai nama Santo
Karena keluarga Andun itulah santo santa buatku..”.

“Malam kudus…sunyi senyap….”
Daminah tak tau harus menyanyikan apa
Ia nyanyikan “Yen ing tawang ana lintang..”
Karena artinya sama dengan natal menurutnya
Ia lihat anaknya yang paling cantik
Untung mirip dia, bukan bapaknya yang sialan itu!

Dia tertidur bersama bayinya
Lagi lagi di emperan warung tahu gejrot..
Tanpa ada yang tahu..
Kalau dia juga Natalan..bersama Yesus kecilnya..

Quezon City, Dec 21, 2008
Erwin

Ketika Manila menjadi malam,..

Ketika Manila menjadi malam, aku menikmati kesendirianku bagaikan pohon pohon kecil terbentur asap jeepney yang tak mau berhenti meraung. Aku menjadi malam itu sendiri, sementara sang pagi tak kunjung tiba di eskinita tempatku lewat sambil menyiulkan lagu pengharapan. Aku dan malamku adalah rencana yang telah dituliskan dalam terang tanpa garis. Aku menahan diri untuk tidak menguap, karena uapku hanyalah debu di tengah kantung-kantung air yang menggenangi jalanan padat.

Menidurkan kelam adalah kemenangan bagiku di tengah kepapaan akal. Aku sejenak berdiri di ambang pintu gerbang kota menantikan pagi itu sungguh datang dan menerangi langkah tukang sayur dalam perlombaan pasar. Sepertinya aku menunggu angin. Jiwaku tak mau terkulai sementara angin belum mau mengangkat debu debu asap yang mengubah keindahan bunga dan daun. Akankah malam menjadi terang benderang di antara gerbang tempat berdiriku?

Sekarang lampu lampu kota telah dimatikan. Tetapi tanya di tidurku tidak juga lelap. Aku masih bisa membacanya di antara hela nafasku sendiri. Ke mana kaki ini akan kulangkahkan bersama kayuhan Tricycle yang mengendap takut terdengar derumannya? Manakah tempat peristirahatan bagiku yang menantikan halte bus tanpa nama itu? Aku bertanya untuk sesuatu yang telah kutahu jawabnya. Aku mau di sini..

Di tengah deruman Manila, memang bisa menjemukan. Tetapi bising dan ocehan orang di tengah pasar telah begitu akrab dengan derap langkahku sendiri. Aku tidak sendiri merindukan tempat tinggal untuk malam malam renunganku. Kota telah menjadi basah dengan kerinduan yang menangis, tetapi aku belum bisa membasuh temaram dengan cahayaku yang belum terang. Aku masih merindukan malam demi pagi di tempatku merenung.

Ate, Kuya, Lola, Lolo, Tita, Tito, Nanay, Tatay, semua sedang merangkai katanya sendiri di otakku. Aku menjadi takut melupakannya. Aku merindukan kata kata itu atas nama peringatan kerajaanku. Masih samar dalam bayangan fajar, tetapi aku sudah mulai mencintainya..Mataku telah menangkap warna indah ketika pakaian kebesaran itu tertera di antara keringat tidurku. Mimpiku, suatu saat nanti aku memiliki matahari di Manila yang tak pernah tertidur di antara seribu malam yang sama..

MERRY CHRISTMAS TO ALL OF YOU
WHILE WE ARE DOING OUR OWN LIFE
HE IS ALREADY BORN IN OUR HEART
TAKE TIME TO SHARE
ENJOY OUR LIFE
LET JESUS LIVE IN OUR HEART

Kita punya sesuatu yang baik...


Dunia ini hanya kita yang punya
Kendati banyak orang kehilangan dirinya
di tengah tengah kesibukannya
Aku ajak kamu menikmati duniaku
Supaya kita bersama tahu
Berbagi itu lebih dari sekedar menikmati
...

Erwin