Bukan Puisi Natal
Terlalu banyak orang natalan
Buat mereka natalan bak jalan jalan
Cuci mata untuk memanfaatkan baju baru
Atau sekali sekali mengunjungi Gereja Nostalgia
Di seberang jembatan itu
Orang orang juga natalan dengan music dangdut
Mereka tidak tau kalau itu natal juga
Bayi merah seorang perempuan juga lahir hari ke 25
Selendang busuk dan susu dari dada ibunya
Cukup membuatnya aman sentosa
Meski debu jalan tak seharum rumah bersalin
Mereka heran melihat orang cantik dan bagus
Dengan parfum seperti tukang emas
Dan bau harum cap “Ratu Agung”
Mereka kagum melihat mereka natalan
Sementara mereka “natalan” bersama bayinya yang lapar
Mereka tidak tau apa yang dinatalkan
Yang mereka tau adalah Tuhan sudah bersama mereka
Selama mereka masih bisa bernafas
Perempuan itu juga melahirkan di jalan
Diusir tukang tahu gejrot, karena tidak pindah tempat
Untunglah ada Mustika, Isteri si Andun tukang asongan
Dia tidak peduli natal atau natalan
Karena pedulipun sudah tidak ada artinya
Ia peduli hanya pada nasib bayinya
Meski dulu namanya Kristin Daminah, pemberian neneknya
Ia tau ia juga Kristen, tetapi apalah artinya itu
Sekedar nama tak membuatnya dekat pada mereka
Daminah tau hari itu adalah hari natalan
Ia tahu banyak orang ke gereja dengan pakaian bagus
Dan bau wangi semerbak
Seakan berujar dia juga ikhtiar:
“Kalau aku dapat duit, aku mau pakai warna merah hijau
Bawahan emas, buat ke Gereja bareng si kecil.
Namanya adalah Ratna yang berarti kemilau”
Tak perlu memakai nama Santo
Karena keluarga Andun itulah santo santa buatku..”.
“Malam kudus…sunyi senyap….”
Daminah tak tau harus menyanyikan apa
Ia nyanyikan “Yen ing tawang ana lintang..”
Karena artinya sama dengan natal menurutnya
Ia lihat anaknya yang paling cantik
Untung mirip dia, bukan bapaknya yang sialan itu!
Dia tertidur bersama bayinya
Lagi lagi di emperan warung tahu gejrot..
Tanpa ada yang tahu..
Kalau dia juga Natalan..bersama Yesus kecilnya..
Quezon City, Dec 21, 2008
Erwin

