
Kadang kadang, bersikap sederhana dan tak tahu
lebih menyenangkan daripada melihat banyak hal yang memikat
Aku ingin melepas pakaian tanda kehadiranku
dan dengan apa adanya menekuni kursi tempatku mendengarkan
Aku letih ketika tiada lagi kursi bagiku di belakang
Sebab tempatku ada di bagian depan pengadilan
ketika semua orang melihatku penuh harap dan menilai
Seekor kerbau tidak akan menyembunyikan kelabunya
seperti juga katak tidak dapat meriap terus menerus
Aku memimpi menjadi apa adaku
Bahwa ada saatnya aku juga tidak punya apa apa
Aku hanyalah dian,
yang bernyala ketika orang membutuhkan cahaya
Sampai suatu saat, aku harus meredup
ketika minyak hidupku menjadi letih memanasi langit kamar
Aku harus sendiri dulu dengan renungan panjang
Menekuni kegiranganku waktu Tuanku membasuh letihku
dengan lengan-Nya yang menguatkan
sesaat sesudahnya,
barulah aku tersenyum menarikan cahaya nyalaku
Untuk siapa saja yang merindu usapan yang sama Tuanku
di atas kaki dian yang berdiri teguh
No comments:
Post a Comment