
Ketika Manila menjadi malam,..
Ketika Manila menjadi malam, aku menikmati kesendirianku bagaikan pohon pohon kecil terbentur asap jeepney yang tak mau berhenti meraung. Aku menjadi malam itu sendiri, sementara sang pagi tak kunjung tiba di eskinita tempatku lewat sambil menyiulkan lagu pengharapan. Aku dan malamku adalah rencana yang telah dituliskan dalam terang tanpa garis. Aku menahan diri untuk tidak menguap, karena uapku hanyalah debu di tengah kantung-kantung air yang menggenangi jalanan padat.
Menidurkan kelam adalah kemenangan bagiku di tengah kepapaan akal. Aku sejenak berdiri di ambang pintu gerbang kota menantikan pagi itu sungguh datang dan menerangi langkah tukang sayur dalam perlombaan pasar. Sepertinya aku menunggu angin. Jiwaku tak mau terkulai sementara angin belum mau mengangkat debu debu asap yang mengubah keindahan bunga dan daun. Akankah malam menjadi terang benderang di antara gerbang tempat berdiriku?
Sekarang lampu lampu kota telah dimatikan. Tetapi tanya di tidurku tidak juga lelap. Aku masih bisa membacanya di antara hela nafasku sendiri. Ke mana kaki ini akan kulangkahkan bersama kayuhan Tricycle yang mengendap takut terdengar derumannya? Manakah tempat peristirahatan bagiku yang menantikan halte bus tanpa nama itu? Aku bertanya untuk sesuatu yang telah kutahu jawabnya. Aku mau di sini..
Di tengah deruman Manila, memang bisa menjemukan. Tetapi bising dan ocehan orang di tengah pasar telah begitu akrab dengan derap langkahku sendiri. Aku tidak sendiri merindukan tempat tinggal untuk malam malam renunganku. Kota telah menjadi basah dengan kerinduan yang menangis, tetapi aku belum bisa membasuh temaram dengan cahayaku yang belum terang. Aku masih merindukan malam demi pagi di tempatku merenung.
Ate, Kuya, Lola, Lolo, Tita, Tito, Nanay, Tatay, semua sedang merangkai katanya sendiri di otakku. Aku menjadi takut melupakannya. Aku merindukan kata kata itu atas nama peringatan kerajaanku. Masih samar dalam bayangan fajar, tetapi aku sudah mulai mencintainya..Mataku telah menangkap warna indah ketika pakaian kebesaran itu tertera di antara keringat tidurku. Mimpiku, suatu saat nanti aku memiliki matahari di Manila yang tak pernah tertidur di antara seribu malam yang sama..
No comments:
Post a Comment